Lagi-lagi Tentang Anak Muda: Apa Lagi yang Masih Mungkin untuk Dilakukan?

Oleh: Husein Maulana

Jumlah pemuda di Indonesia pada 2022 dalam rentang 16–30 tahun ada di kisaran angka 24%. Sebagai perbandingan, Amerika serikat ada di angka 20%, Korea selatan 12%, China 18%, dan India sebagai peringkat pertamanya memiliki lebih dari 65% populasinya berusia di bawah 35 tahun. 

Secara global, setengah dari populasi dunia di tahun yang sama berusia di bawah 25 tahun, dan 1,8 miliar orang berusia antara 10 dan 25 tahun. Ini adalah generasi muda terbesar yang pernah ada. Namun, secara keseluruhan, laporan Indeks PBB menemukan bahwa 85% dari kaum muda yang terwakili di 30 negara mengalami "tingkat kesejahteraan yang lebih rendah" daripada rata-rata. Secara keseluruhannya lagi, kaum muda paling kuat dalam hal kesehatan dan paling lemah dalam hal peluang ekonomi.

Sekelompok anak muda sedang melakukan praktik baris-berbaris dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan (Foto oleh Adi Pratama/Pexels)

Pernyataan Benjamin Disraeli boleh jadi masih menghibur. Bahwa banyak hal besar di dunia telah dimenangkan oleh pemuda. Tapi, untuk saat ini dan seterusnya, apa misalnya pertempuran-pertempuran menghadapi kesulitan di depan mata yang berpotensi untuk dimenangkan? 

Indonesia, dengan ribuan organisasi pemuda yang tumbuh berkembang dan melenyap seiring waktu dan minat, dihadapkan pada, sebutlah, tantangan utama di atas, yaitu peluang ekonomi yang lemah untuk anak muda. Lalu, jika perlu menambahkan yang lain, ada masalah-masalah multi-dimensi meliputi situasi politik dengan partisipasi yang masih rendah (catatan global ada di angka 18,8% dari target 35%), dilengkapi kekecewaan pada dunia pendidikan serta kekhawatiran akan kerusakan lingkungan yang semakin memprihatinkan. Sampai sini tentu saja masih bisa ditambahkan masalah-masalah lain yang bisa jadi terlampau banyak. 

Sebelum tergesa-gesa merumuskan apa lagi yang masih bisa kita lakukan, ada hal yang tampaknya bisa menjadi refleksi atau momen re-calling memori kolektif untuk sejenak! 

Mundur ke tahun 1908, beberapa peristiwa penting terjadi di Hindia Belanda. Pertama, Organisasi Budi Utomo dibentuk. Kedua, VSTP, serikat pekerja ‘pribumi’ pertama dideklarasikan. Ketiga, perang Kamang menentang kolonial Belanda di Sumatra Barat meletus. Tahun ini juga menjadi penanda penting bahwa era pergerakan nasional dimulai. 

Sejarah mencatat, seperti bola salju menggelinding, Indische Partij, Serikat Islam, Taman Siswa, dan Perhimpunan Indonesia kemudian menambah kebangkitan anak-anak muda di era tersebut. Mereka berfokus pada kemandirian, isu ekonomi, pendidikan, sosial, politik, jurnalistik, kesehatan, dan yang memimpin itu semua: usaha melepaskan diri dari belenggu penindasan dan penjajahan! 

Jika dilihat detailnya secara organisasi dari program kerja masing-masing, mobilisasi, rapat-rapat, keanggotaan, dan dampak keberadaannya, mereka terbilang memiliki disiplin organisasi, ketekunan, dan kemauan untuk belajar yang luar biasa. Hal itu mereka semua lakukan—jika dibandingkan era sekarang—dengan mobilitas, sumber daya, dan akses yang cukup terbatas dan kurang memadai. 

Apa yang penting dari memori kolektif ini untuk zaman kita

Pada bagian ini sebetulnya kita bebas menghubungkannya dengan apa atau siapa, namun sebagai satu contoh, Kanal Muda sebagai perkumpulan (dalam bentuk federasi) antar organisasi pemuda dengan kecenderungan isu sosial-kepemudaan di Jawa Tengah dan DIY berusaha untuk bisa terus berperan. Meskipun, sekali lagi, di tengah dinamika organisasi pemuda yang tumbuh berkembang dan melenyap seiring waktu dan minat. 

Dibentuk pada April 2020 dan hampir dua tahun sebelumnya mengembangkan silaturahmi intens antar organisasi, Kanal Muda mencoba mengambil peranan poros kolaborasi yang saat itu difokuskan dalam menyikapi pandemi covid-19. Secara jumlah, ada sekitar 5 organisasi awal yang terlibat dengan aktif. Kegiatan dari menyalurkan donasi, menyelenggarakan pasar murah, dan diskusi dalam beragam topik dilakukan secara intens. Bahkan, secara seremonial, peringatan hari pemuda sedunia juga berhasil dilakukan secara dramatis di Gua Batu Jonggol, Kulon Progo pada 12 Agustus 2020. Selebihnya, perkembangannya sampai hari ini, secara ringkas, seperti air laut. Terkadang pasang-surut, namun masih ada wujudnya. 

Semangat era pergerakan nasional tersebut banyak menjadi refleksi Kanal Muda saat pembentukannya. Perkumpulan ini ingin menjadi pelestari pendidikan gratis dan kerakyatan seperti Taman Siswa, mengembangkan ekonomi seperti Serikat Dagang Islam, bersikap kritis seperti VSTP, dan menjadi pemersatu anak muda yang efektif seperti Budi Utomo. Bahkan, berharap secara gimmick-heroik bisa menyelenggarakan sumpah pemuda jilid dua. 

Namun, lagi-lagi tantangan besarnya, ada persoalan yang meskipun sudah ada kisi-kisinya, masih saja kesulitan untuk menjawabnya. Soal tersebut adalah ketidakmampuan secara efektif dalam menjalankan program kerja masing-masing, mobilisasi, rapat-rapat, keanggotaan, dan dampak keberadaan dengan disiplin organisasi, ketekunan, dan kemauan untuk belajar yang luar biasa—seperti era pergerakan nasional sebelumnya. 

Apa yang Masih Mungkin untuk Dilakukan

Indonesia memang terbilang unggul. Kekayaan sumber daya alamnya luar biasa, jumlah usia penduduk berusia mudanya urutan 3 di dunia. Selain itu, indeks kebobrokan demokrasi dan korupsinya juga menempati urutan peringkat atas dunia. Rasanya tidak berlebihan ketika ada orang yang menyebut dengan frasa rakyat menderita hidup di negeri yang kaya raya! 

Ada satu hal yang tampaknya mungkin kurang menarik dan bukan hal heroik untuk dilakukan untuk menyikapi situasi saat ini dan hari-hari ke depan. Namun, rasanya cukup relevan. Hal itu adalah mengubah kebiasaan! 

Jika dinarasikan ini tentu saja bisa-bisa panjang, untuk menyebut beberapa contoh: ubah kebiasaan menormalisasi korupsi dan kemalasan, ubah kebiasaan menunda program kerja dan menggampangkannya, ubah kebiasaan tidak produktif lainnya menjadi semakin efektif, dan ubah-ubah lainnya yang sepertinya masih akan ada banyak jumlahnya. 

Tentu saja semua hal-hal itu tidak mungkin selesai dalam satu malam. Pendekatan psikologi perilaku menyebut setidaknya dilakukan 21 kali secara terus menerus. Era pergerakan nasional sampai era kemerdekaan membutuhkan waktu 37 tahun, perjuangan mewujudkan 8 jam kerja membutuhkan 116 tahun, perjuangan dari perang Jawa sampai kemerdekaan membutuhkan waktu 120 tahun, bahkan proses pelapukan fisik dan kimiawi yang menyebabkan batuan-batuan besar hancur menjadi partikel-partikel kecil yang disebut butiran pasir terjadi selama ribuan hingga jutaan tahun. 

Rasanya, dengan waktu perubahan yang relatif tidak sebentar ini malah memunculkan pertanyaan baru. Bersama siapa kita akan melakukannya? Sampai kapan kita bisa melakukannya? Dan bagaimana kita akan melakukannya? 

Jangan khawatir, jika melihat sejarah yang terus berlangsung sampai sekarang, tampaknya selalu saja ada orang-orang, kelompok, organisasi, dan negara-negara tertentu yang bisa berhasil melakukannya! (Mh)

Yogyakarta, 21 Maret 2025

Kanal Muda. Mengalirkan Kehidupan.

Pos Berikutnya Pos Sebelumnya
Tidak Ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url